Tampilkan postingan dengan label KEHILANGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEHILANGAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 November 2013

ASKEP KEHILANGAN


Posted by : Intan Nur K
akper yappi sragen……just do care




      Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda.

Terlepas dari penyebab kehilangan yang dialami setiap individu akan berespon terhadap situasi kehilangan, respon terakhir terhadap kehilangan sangat dipengaruhi oleh kehilangan sebelumnya.

Elizabeth Kubler-rose,1969.h.51, membagi respon berduka dalam lima fase, yaitu : pengikaran, marah, tawar-menawar, depresi dan penerimaan.


Rentang Respon Kehilangan

Gambar rentang respon individu terhadap kehilangan (Kublier-rose,1969).

                                 Fase   Marah                                     Fase Depresi
     -------------------------------------------------------------------------------------------
  Fase Pengingkaran                        Fase Tawar-menawar                     Fase Menerima

Fase Pengingkaran

Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak percaya atau mengingkari kenyataan bahwa kehidupan itu memang benar terjadi, dengan mengatakan “ Tidak, saya tidak percaya itu terjadi “ atau “ itu tidak mungkin terjadi “. Bagi individu atau keluarga yang didiagnosa dengan penyakit terminal, akan terus mencari informasi tambahan.

Reaksi fisik yang terjadi pada fase ini adalah : letih, lemah, pucat, diare, gangguan pernafasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah, dan tidak tahu harus berbuat apa. Reaksi ini dapat berakhir dalam beberapa menit atau beberapa tahun.

Fase Marah

Fase ini dimulai dengan timbulnya suatu kesadaran akan kenyataan terjadinya kehilangan Individu menunjukkan rasa marah yang meningkat yang sering diproyeksikan kepada orang lain atau pada dirinya sendiri. Tidak jarang ia menunjukkan perilaku agresif, berbicara kasar, menolak pengobatan, menuduh dokter-perawat yang tidak pecus. Respon fisik yang sering terjadi antara lain muka merah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal.

Fase Tawar-menawar

Individu telah mampu mengungkapkan rasa marahnya secara intensif, maka ia akan maju ke fase tawar-menawar dengan memohon kemurahan pada Tuhan. Respon ini sering dinyatakan dengan kata-kata “ kalau saja kejadian ini bisa ditunda, maka saya akan sering berdoa “. Apabila proses ini oleh keluarga maka pernyataan yang sering keluar adalah “ kalau saja yang sakit, bukan anak saya”.

Fase Depresi

Individu pada fase ini sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang sebagai pasien sangat penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, perasaan tidak berharga, ada keinginan bunuh diri, dsb. Gejala fisik yang ditunjukkan antara lain : menolak makan, susah tidur, letih, dorongan libido manurun.

Fase Penerimaan

Fase ini berkaitan dengan reorganisasi perasaan kehilangan. Pikiran yang selalu berpusat kepada obyek atau orang yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Individu telah menerima kehilangan yang dialaminya. Gambaran tentang obyek atau orang yang hilang mulai dilepaskan dan secara bertahap perhatiannya akan beralih kepada obyek yang baru. Fase ini biasanya dinyatakan dengan “ saya betul-betul kehilangan baju saya tapi baju yang ini tampak manis “ atau  “apa yang dapat saya lakukan agar cepat sembuh”.

Apabila individu dapat memulai fase ini dan menerima dengan perasaan damai, maka dia akan mengakhiri proses berduka serta mengatasi perasaan kehilangannya dengan tuntas. Tetapi bila tidak dapat menerima fase ini maka ia akan mempengaruhi kemampuannya dalam mengatasi perasaan kehilangan selanjutnya.

TUGAS TERSTRUKTUR UNIT KEPERAWATAN JIWA
PSIK-FK UNAIR

Kasus : 3

Ibu A. 39 baru pertama kali dirawat diRSJ Menur karena sejak sebulan yang lalu mengurung diri dikamar, menolak makan, minum, dan mandi. Hal ini terjadi sejak bercerai dengan suaminya yang ketiga bulan yang lalu. Berdasarkan hasil observasi saat klien dirawat dirumah sakit , klien tampak selalu menyendiri, lebih sering berada ditempat tidur dengan posisi janin, saat makan selalu duduk di pojok dan berpindah tempat bila ada yang duduk disebelahnya. Klien jarang mandi dengan alasan malas. Baju hampir tidak pernah diganti, kulit, kuku, dan gigi tampak kotor.

Saat dikaji oleh perawat, klien mengatakan merasa malu bergaul dengan orang lain karena merasa dirinya jelek. Klien juga merasa dirinya minder karena selalu gagal dalam pernikahan. Klien mengatakan mana ada orang yang mau berteman dengan saya suster saya khan tidak bisa apa-apa, udah jelek janda lagi.

Tugas :
1.      Buat pohon masalah pada kasus diatas?
2.      Rumuskan diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan untuk ibu A ?
3.      Buatlah rencana pelaksanaan komunikasi terapeutik ?

Jawaban  Soal :

1. Pohon Masalah
                           

Isolasi  diri
Menarik diri
                     Defisit perawatan diri    }     (akibat)
Intoleransi aktivitas
/\
|


                                Harga diri rendah : kronik   }    Masalah Utama
/\
|


                                      Depresi                          }   Penyebab
(Pola Koping Individu tidak efektif)
/\
|



                                                 Kehilangan : Cerai               }       Faktor  Presipitasi       



2. Diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan untuk ibu A.

1.      Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah / kronis.
2.      Gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis berhubungan dengan koping individu tak efektif sekunder terhadap respon kehilangan pasangan.
3.      Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktivitas.


1.      Diagnosa keperawatan : Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah : kronis
-          Tujuan Umum :  Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
-          Tujuan Khusus:
1.      Klien dapat membina hubungan saling perbaya dengan perawat.
2.      Klien dapat memahami penyebab dari harga diri : rendah.
3.      Klien menyadari aspek positif dan negatif dari dirinya.
4.      Klien dapat mengekspresikan perasaan dengan tepat, jujur dan terbuka.
5.      Klien mampu mengontrol tingkah laku dan menunjukkan perbaikan komunikasi dengan orang lain.

       Rencana tindakan keperawatan :
         
1.      Bina hubungan saling percaya dengan klien.
R/ Rasa percaya merupakan dasar dari hubungan terapeutikyang mendukung dalam mengatasi perasaannya.
2.      Berikan motivasi klien untuk mendiskusikan fikiran dan perasaannya.
R/ Motivasi meningkatkan keterbukaan klien.
3.      Jelaskan penyebab dari harga diri yang rendah.
R/ Dengan mengetahui penyebab diharapkan klien dapat beradaptasi dengan perasaannya.
4.      Dengarkan klien dengan penuh empati, beri respon dan tidak menghakimi.
R/ Empati dapat diartikan sebagai rasa peduli terhadap perawatan klien, tetapi tidak terlibat secara emosi.
5.      Berikan motivasi klien untuk menyadari aspek positif dan negatif dari dirinya.
R/ Meningkatkan harga diri.
6.      Beri dukungan, Support dan pujian setelah klien mampu melakukan aktivitasnya.
R/  Pujian membuat klien berusaha lebih keras lagi.
7.      Ikut sertakan klien dengan aktifitas yang
R/. Mengikut sertakan klien dalam aktivitas sehari-hari yang dapat meningkatkan harga diri klien.

2.      Gangguan konsep diri; harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tak efektif sekunder terhadap respon kehilangan pasangan.

Tujuan :
  1. Klien merasa harga dirinya naik.
  2. Klien mengunakan koping yang adaptif.
  3. Klien menyadari dapat mengontrol perasaannya.

      Intervensi :
1.      Merespon kesadaran diri dengan cara :
~ Membina hubungan saling percaya dan keterbukaan.
~ Bekerja dengan klien pada tingkat kekuatan ego yang dimilikinya.
~ Memaksimalkan partisipasi klien dalam hubungan terapeutik.
R/. Kesadaran diri sangat diperlukan dalam membina hubungan terapeutik perawat – klien.

2.      Menyelidiki diri dengan cara :
~ Membantu klien menerima perasaan dan pikirannya.
~ Membantu klien menjelaskan konsep dirinya dan hubungannya dengan orang   lain melalui keterbukaan.
~ Berespon secara empati dan menekankan bahwa kekuatan untuk berubah ada pada klien.
R/. klien yang dapat memahami perasaannya memudahkan dalam penerimaan
      Terhadap dirinya sendiri.

3.      Mengevaluasi diri dengan cara :
~ Membantu klien menerima perasaan dan pikiran.
~ Mengeksplorasi respon koping adaptif dan mal adaptif terhadap masalahnya.
R/. Respon koping adaptif sangat dibutuhkan dalam penyelesaian masalah secara konstruktif.

4.      Membuat perencanaan yang realistik.
~ Membantu klien mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah.
~ Membantu klien menkonseptualisasikan tujuan yang realistik.
R/. Klien membutuhkan bantuan perawat untuk mengatasi permasalahannya dengan cara menentukan perencanaan yang realistik.

5.      Bertanggung jawab dalam bertindak.
~ Membantu klien untuk melakukan tindakan yang penting untuk merubah respon maladaptif dan mempertahankan respon koping yang adaptif.
R/. Penggunaan koping yang adaptif membantu dalam proses penyelesaian masalah klien.

6.      Mengobservasi tingkat depresi.
~ Mengamati perilaku klien.
~ Bersama klien membahas perasaannya.
R/. Dengan mengobservasi tingkat depresi maka rencana perawatan selanjutnya disusun dengan tepat.

7.      Membantu klien mengurangi rasa bersalah.
~ Menghargai perasaan klien.
~ Mengidentifikasi dukungan yang positif dengan mengaitkan terhadap kenyataan.
~ Memberikan kesempatan untuk menangis dan mengungkapkan perasaannya.
~ Bersama klien membahas pikiran yang selalu timbul.
R/. Individu dalam keadaan berduka sering mempertahankan perasaan bersalahnya terhadap orang yang hilang.

 3.  Defisit perawatan diri berhubungan dengan intolenransi aktivitas.

        Tujuan Umum : Klien mampu melakukan perawatan diri secara optimal.

        Tujuan khusus :
1.      Klien dapat mandi sendiri tanpa paksaan.
2.      Klien dapat berpakaian sendiri dengan rapi dan bersih.
3.      Klien dapat menyikat giginya sendiri dengan bersih.
4.      Klien dapat merawat kukunya sendiri.

         Intervensi :

1.      Libatkan klien untuk makan bersama diruang makan.
R/. Sosialisasi bagi klien sangat diperlukan dalam proses menyembuhkannya.
         
2.      Menganjurkan klien untuk mandi.
R/. Pengertian yang baik dapat membantu klien dapat mengerti dan diharapkan dapat melakukan sendiri.

3.      Menganjurkan pasien untuk mencuci baju.
R/. Diharapkan klien mandiri.

4.      Membantu dan menganjurkan klien untuk menghias diri.
R/. Diharapkan klien mandiri.

5.      Membantu klien untuk merawat rambut dan gigi.
R/. Diharapkan klien mandiri
R/. Terapi kelompok membantu klien agar dapat bersosialisasi dengan klien

Jumat, 15 November 2013

KDM :: Kehilangan dan Berduka



Posted By : Intan Nur K
Dosen : Kunaryanti, S.Kep, Ns



KEHILANGAN & BERDUKA
PENGERTIAN
-          Kehilangan
Merupakan keadaan dimana individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada kemudian menjadi tidak ada baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert & Lambert 1985)
-          Kehilangan /loss
suatu situasi aktual maupun potensial yg dpt di alami individu ketika berpisah dgn sesuatu yg sblmnya ada, baik sebagian /keseluruhan, atau tjd perubahan dlm hdp shg tjd perasaan kehilangan (Alimul Aziz)
-          Kehilangan
adalah situasi akktual atau potensial ketika sesuatu (orang atau objek) yg DI  HARGAI, BERARTI telah berubah, tdk lagi ada atau menghilang. (mubarok)

Apakah anda pernah merasakan kehilangan???

Setiap individu pasti pernah merasakan kehilangan dlm rentang hidupnya. Kehilangan pertama kali ketika kita di lahirkan..,dan cenderung akan mengalaminya kembali meskipun dlm bentuk yg berbeda
Setiap individu akan bereaksi terhadap kehilangan.
            Respon terakhir terhadap kehilangan sangat dipengaruhi oleh respon individu terhdap kehilangan sblmnya.

SUMBER KEHILANGAN
  1. Aspek diri
dpt meliputi khilangan anggota tbh:ekstremitas akibat kecelakaan, kehilangan fungsi organ: lumpuh, aspek psikologis: hilang ingatan
  1. Kehilangan milik pribadi (Objek eksternal)
kehilangan objek hidup : hewan kesayangan, uang, dompet, harta benda, pasangan hidup.
3.      Lingkungan yg di kenal
 lingkungan yg biasa di kenal oleh seseorg à terjangan banjir, tnunami, dan bncn lain
4.      Orang yg di cintai/org yg berartià kehilangan anak suami istri pasangan hidup, kekasih dsb

BENTUK – BENTUK KEHILANGAN

  1. Fisik/aktual loss
sifatnya nyata dan dpt di kenali org lain (org lain dpt juga merasakan apa yg terjadi pd org trsebut)
2.      Psikologis  (percerved loss)
jns kehilangan ini sftnya abstrak&tdk dpt dilihat oleh org lain, hny yg mengalami yg bisa merasakan (kepercayaan diri, harga diri)
     3. Antisipasi (Anticipatory loss)
            sbnrnya dpt di antisipasi namun kebanyakan org yg mengalami kondisi ini menunjukkan perilaku yg sama spt org yg kehilangan atau berduka : ketika org yg kita cintai menderita penyakit terminal
Jenis-jenis kehilangan
  1. Kehilangan objek eksternal
  2. Kehilangan lingkungan yang dikenal
  3. Kehilangan sesuatu atau seseorang yang berarti
  4. Kehilangan suatu aspek diri
  5. Kehilangan hidup

Tahap-tahap proses kehilangan :

1. Menurut Kubler Ross
a)      Denial (mengingkari)
b)      Anger (marah)
c)      Bergaining (tawar menawar)
d)     Depression (bersedih yang mendalam)
e)      Acceptence (penerimaan)
2. Menurut Lambert and Lambert
a)      Repudiation (penolakan)
b)      Recognition (pengenalan)
c)      Reconsiliation (pemulihan)

Grieving/ Duka Cita

-          merupakan respon individu / reaksi psikologis, sosial, dan fisik dari kehilangan dan terjadi karena kehilangan yang dipersepsikan.
-          Mrpkn reaksi emosional thdp kehilangan.
-          Di wujudkan dgn cara dan perilaku yg unik pd masing2 org
-          Di dasarkan pd pengalaman pribadi, budaya, keyakinan spiritual yg di anut.
-           
Berkabung
adalah keadaan subyektif yang mengikuti kehilangan dan merupakan emosi yang kuat yang mempengaruhi kehidupan seseorang.

Jenis Berduka
1. Berduka normal
            terdiri atas perasaan, perilaku dan reaksi yg normal thdp kehilangan: sedih, marah, menangis
2. Berduka antisipatif
            proses berduka yg muncul sblm kehilangan atau kematian yg sesungguhnya terjadi: penyakit terminal
3. Berduka yg rumit
            seseorg yg sulit untuk maju ke tahap berikutnya. Masa berkabung seolah-olah tdk kunjung berakhir.
4. Berduka tertutup
            kdukaan akibat kehilangan yg tdk dpt di akui secara terbuka : kehilangan pasangan akibat AIDS, abortus
Factor-factor yang mempengaruhi reaksi kehilangan :
  1. Pengalaman yang lalu dengan kehilangan.
  2. Pentingnya arti kehilangan dan gangguan yang bersangkutan.
  3. Kebudayaan.
  4. Ekonomi.
  5. Dukungan keluarga

ASUHAN KEPERAWATAN
KEHILANGAN DAN BERDUKA

PENGKAJIAN
1.      Genetik
individu yg di lahirkan dan di besarkan dlm kluarga dgn rwyt depresi akan sulit mengembangkan sikap optimis dlm menghadapi suatu masalah, termasuk kehilangan
2.      Kesehatan fisik
individu dgn fisik yg baik mempunyai kemampuan menghadapi stressor lbh baik.
3.      Kesehatan mental
individu yg mempunyai ggn jiwa, terutama riw. Depresi
4.      Pengalaman kehilangan masa lalu
kehilangan atau perpisahan dg org yg di cintai pd masa kanak2 akan mempengaruhi kemampuan individu dlm mengatasi perasaan kehilangan pd masa dewasa.

Dx. Keperawatan

-          Berduka b/d kehilangan aktual atau kehilangan yg di rasakan
-          Berduka antisipatif b/d perpisahan atau kehilangan
-          Berduka disfungsional b/d kehilangan orang/ benda yg di cintai atau memiliki arti besar.

Intervensi dan implementasi
  1. membina dan meningkatkan hubungan saling percaya dgn cara:
            - mendengarkan pasien berbicara
            - memberi dorongan agar ps mau mengungkapkan perasaanya
  1. Mengenali faktor2 yg mungkin mnghambat
  1. Mengurangi menghilangkan faktor penghambat
            - bersama pasien mengingat kembali cara mengatasi perasaan berduka di ms lalu
  1. Memberi dukungan terhadap respon kehilangan pasien
            - menjelaskan pd klrg dan pasien bahwa tahap denial-acceptance adalah wajar
  1. Meningkatkan rasa kebersamaan antara anggota klrg menguatkan dukungan klrg
            - m’jelaskan manfaat hbngan dgn org lain
            - menguatkan dukungan klrg / org berarti
  1. Menentukan tahap keberadaan pasien
            - mengamati perilaku pasien

Evaluasi
         Evaluasi thdp mslh kehilangan dan berduka scr umum dpt di nilai dr kemampuan untuk menghadapi atau memaknai arti kehilangan, reaksi thdp khilangan dan perubahan perilaku yg menerima arti khilangan.